Lampung

Kritik Pedas Dua Advokat Muda Menggema: Way Kanan, Daerah Sejuta Lubang

2239
×

Kritik Pedas Dua Advokat Muda Menggema: Way Kanan, Daerah Sejuta Lubang

Sebarkan artikel ini

WAY KANAN,SMI

Kritik tajam terhadap kondisi infrastruktur di Kabupaten Way Kanan kembali mencuat. Kali ini datang dari dua advokat muda daerah setempat, Anton Heri, SH., asal Negeri Agung, dan Hodi Feriyansyah, SH., dari Bumi Agung. Keduanya kompak menyuarakan kekecewaan mendalam buruknya kualitas jalan dan stagnasi pembangunan sejak tanah kelahiran mereka ini berdiri pada 1998.

“Sudah lebih dari dua dekade, tapi kemajuan Way Kanan nyaris tak terasa. Infrastruktur amburadul, ekonomi jalan di tempat, dan kesejahteraan masyarakat masih jauh dari harapan,” tegas Anton, minggu (8/6/2025)

Ia menyinggung bahwa pada masa pemerintahan sebelumnya, Way Kanan sempat mengusung slogan ‘maju dan berdaya saing’, namun hingga kini belum ada capaian yang bisa dibanggakan. “Sekarang slogan berganti menjadi ‘Way Kanan Unggul dan Sejahtera’, tapi kalau infrastruktur dasar saja tak diprioritaskan, itu hanya jadi janji kosong,” katanya.

Anton juga menyindir julukan memalukan yang kini disematkan masyarakat luar terhadap daerahnya “Saat ini Way Kanan di labeli oleh orang luar, daerah sejuta lubang. Julukan itu lahir dari realita. Faktanya di kampung halaman saya saja, dari Gedung Harapan sampai Gunung Katun, lubang-lubang besar menghiasi jalan. Yang lebih parah lagi, jalan menuju Ibukota, yang menjadi wajah dari daerah ini saja, seperi itu bentuknya. Seolah tak pernah ada perhatian dari pemerintah,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menilai kondisi ini bukan sekadar soal jalan rusak, tapi cerminan dari lemahnya peran pemerintah dalam memaksimalkan potensi daerah. “Way Kanan tanahnya luas dan mayoritas masyarakatnya petani, tapi hingga kini tak satu pun sektor pertanian yang bisa dibanggakan. Swasembada beras, sawit, karet, apalagi singkong, semuanya tidak tercapai.” ujarnya

Menurutnya, jika akses jalan saja tak layak, maka mustahil masyarakat bisa mengembangkan usaha atau meningkatkan hasil pertanian. “Lihat saja di Bahuga sana, petani gabah lebih memilih menjual hasil panennya ke Sumsel karena akses jalan di sana jauh lebih bagus. Hasil bumi kita justru dinikmati daerah lain,” sesalnya.

Hal senada disampaikan Hodi Feriyansyah. Ia menegaskan kondisi jalan di Kecamatan Bumi Agung bahkan lebih parah.

“Jalan di Bumi Agung bukan cuma rusak, tapi hancur total. Beberapa sudah tidak layak dilalui kendaraan. Ini bukan lagi soal kenyamanan, tapi soal keselamatan,” tegas Hodi.

Ia mengingatkan agar pemerintah daerah tidak menunggu amarah rakyat memuncak baru bertindak. “Jangan menunggu kritik datang dari mana-mana baru sibuk bergerak. Infrastruktur jalan itu tanggung jawab penuh pemerintah. Masyarakat sudah terlalu lama bersabar,” tutupnya.

Keduanya berharap agar pemerintahan saat ini benar-benar fokus memperbaiki infrastruktur sebagai dasar dari kemajuan.

“Kalau jalan saja tak bisa dituntaskan, jangan harap bicara soal keunggulan dan kesejahteraan. Infrastruktur adalah jantung pembangunan, bukan hanya sebagai pelengkap.” (Andri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *